Senin, 09 Mei 2016

infeksi dalam kehamilan

INFEKSI DALAM KEHAMILAN


Mengantisipasi Infeksi Pada Masa Kehamilan

Masa kehamilan adalah saat-saat yang rentan baik bagi ibu hamil maupun bagi janinnya. Banyak penyesuaian yang perlu dilakukan agar ibu hamil bisa melewati masa kehamilannya dengan baik dan melahirkan bayi yang sehat. Salah satunya adalah memastikan tubuh bebas dari infeksi dan penyakit yang dapat membahayakan janin.
Bagi sebagian wanita, kadang-kadang kehamilan dapat membuat tubuh mereka menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Bukan hanya itu, kondisi tubuh mereka saat hamil juga cenderung memicu infeksi yang mereka derita menjadi lebih serius jika tidak segera ditangani. Berikut ini adalah beberapa infeksi umum yang dapat menyerang wanita pada masa kehamilan.
mengantisipasi infeksi pada masa kehamilan - Alodokter

Infeksi Saluran Kemih

infeksi saluran kemih (ISK) terjadi ketika bakteri menyerang bagian tertentu dari sistem saluran kemih yang terdiri atas ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. ISK dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu ISK bawah dan atas. ISK bawah merupakan infeksi yang terjadi pada uretra dan kandung kemih. Gejala dari kondisi ini meliputi rasa ingin selalu buang air kecil, nyeri atau perih saat buang air kecil, warna urin yang keruh, dan bau urin yang menyengat. Sedangkan ISK atas merupakan infeksi yang terjadi pada ureter dan ginjal. Gejala dari kondisi ini meliputi nyeri pada bagian selangkangan, mual, dan demam.

ISK umum terjadi selama masa kehamilan, hal ini terjadi karena hormon kehamilan menimbulkan perubahan pada saluran kemih dan membuat Anda lebih rentan untuk terkena infeksi. Jika tidak segera diatasi, infeksi ini dapat menimbulkan infeksi pada ginjal dan berakhir dengan kelahiran prematur.

Vaginosis Bakteri

bacterial vaginosis (BV) atau vaginosis bakteri terjadi karena terganggunya keseimbangan bakteri di vagina. Meski tidak menimbulkan rasa sakit maupun gatal, BV menyebabkan keputihan  dan aroma vagina yang tidak sedap bagi penderitanya.

BV umumnya tidak berbahaya, namun jika dialami oleh wanita yang sedang hamil, infeksi ini berisiko kecil menimbulkan komplikasi pada kehamilan, seperti keguguran atau kelahiran prematur. Bagaimanapun jika vagina mengeluarkan cairan dalam jumlah banyak, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter kandungan Anda.

Infeksi Jamur

Infeksi jamur vaginitis muncul ketika kondisi alami vagina terganggu oleh faktor internal atau eksternal sehingga memicu pertumbuhan jamur mikroskopis secara berlebihan. Infeksi jamur sering terjadi pada wanita hamil karena adanya perubahan hormon yang berdampak pada kondisi vagina. Wanita yang terkena infeksi jamur biasanya mengalami keputihan serta gatal-gatal.
 Secara umum infeksi dalam kehamilan berdasarkan penyebabnya dikelompokan menjadi tiga penyebab, yaitu :
  1. Infeksi Virus ; meliputi varisella zooster, influenza, parotitis, rubeola, virus pernafasan, enterovirus, parfovirus, rubella, sitomegalovirus.
  2. Infeksi bakteri ; meliputi Streptokokus grup A, Streptokokus grup B, Listeriosis, Salmonella, Shigella, Mourbus Hansen.
  3. Infeksi protozoa; meliputi Toksoplasmosis, Amubiasis, amubiasis, infeksi jamur.
1.Varicella – zooster
Walaupun masih diperdebatkan, terdapat bukti bahwa infeksi vaeisella bertambah parah selama kehamilan. Paryani dan Arvin (1986) melaporkan bahwa 4 dari 43 wanita hamil yang terinfeksi atau sekitar 10%, mengalami pneumonitis. Dua dari wanita ini memerlukan ventilator dan satu meninggal. Infeksi herpes zooster pada ibu hamil lebih sering terjadi pada pasien yang lebih tua atau mengalami gangguan kekebalan (immunocompromised).
Pencegahan 
Pemberian imunoglobulin varisela-zooster (VZIG) akan mencegah atau memperlemah infeksi varisella pada orang rentan yang terpajan apabila diberikan dalam 96 jam dengan dosis 125 U per 10 kg, i.m.
Efek pada janin 
Cacar air pada wanita hamil selama paruh pertama gestasi dapat menyebabkan malformasi kongenital akibat infeksi transplasenta, berupa korioretinitis, atrofi korteks serebri, hidronefrosis dan defek kulit serta tulang tungkai. 
Resiko tertinggi terletak pada usia gestasi antara 13 dan 20 minggu. Pajanan pada usia kehamilan yang lebih belakangan menyebabkan lesi varisella  kongenital, dan bayi kadang-kadang mengalami herpes zooster pada usia beberapa bulan (Chiang dkk, 1995). Janin yang terpajan virus tepat sebelum dan saat persalinan ketika antibodi ibu belum terbentuk, mengalami ancaman serius, bayi akan mengalami infeksi viseral dan susunan syaraf pusat diseminata, yang sering kali mematikan. 
2.Influenza
Penyakit ini disebabkan oleh virus dari famili Orthomyxoviridae, meliputi influenza tipe A dan tipe B. Influenza A lebih serius dari pada B. Penyakit ini tidak mengancam nyawa bagi orang dewasa sehat, kecuali apabila timbul pneumonia, prognosis menjadi serius. Haris (1919) melaporkan angka kematian kasar ibu hamil sebesar 27 %, yang meningkat menjadi 50% apabila terjadi pneumonia.
Pencegahan 
Center for Disease  Control and Prevention(1998) menganjurkan vaksinasi terhadap influenza bagi semua wanita hamil setelah trimester pertama. Berapa pun usia gestasi, wanita dengan penyakit medis kronik, misalnya dibetes atau jantung, divaksinasi. Amantadin berespon baik dan spesifik terhadap virus-virus influenza A apabila diberikan dalam 48 jam setelah awitan gejala. 
Efek pada janin
Belum ada bukti kuat bahwa virus influenza A menyebabkan malformasi kongenital atau kelainan pada bayi.
3.Parotitis
Parotitis adalah penyakit infeksi pada orang dewasa yang jarang dijumpai yang disebabkan oleh paramiksovirus RNA. Virus terutama menginfeksi kelenjar liur, tetapi juga dapat mengenai gonad, meningen, pankreas dan organ lain. Parotitis selama kehamilan  tidak lebi parah dibanding pada orang dewasa tidak hamil dan tidak terdapat bukti bahwa virus bersifat teratogenik (Ouhilal, 2000). Vaksin Jeryl-Lynn (virus hidup yang dilemahkan) dan vaksin MMR kontraindikasi bagi wanit haml. 
Efek pada janin
Tidak ada bukti kuat bahwa infeksi parotitis meningkatkan angka kematian janin maupun anomali mayor pada janin. Parotitis kongenital sangat jarang dijumpai.
4.Rubeola (campak)
Virus tampaknya tidak  bersifat teratogenik, tetapi terjadi peningkatan frekuensi abortus dan BBLR pada kehamilan dengan penyulit campak (Siegel dan Fuerst, 1966). Apabila seorang wanita menderita campak sesaat sebelum melahirkan , timbul resiko infeksi serius yang cukup besar pada neonatus, terutama pada bayi preterm. Imunisasi pasif dapat dicapai dengan pemberian globulin serum imun 5 ml i.m dalam 3 hari setelah terpajan. Vaksinasi aktif  tidak diberikan selama kehamilan, tetapi wanita yang rentan secara rutin divaksinasi postpartum. 
5.Rubella
Rubela atau campak Jerman, yaitu suatu penyakit yang biasanya tidak begitu penting pada keadaan tidak hamil,pernah menjadi penyebab langsung hasil-akhir kehamilan yang jelek dan bahkan lebih serius lagi, penyebab malformasi kongenital berat. Hubungan antara rubela maternal dan malformasi kongenital serius, pertama-tama dikenali oleh Gregg (1942), seorang ahli oftalmologi Australia.
Pencegahan                                          
Untuk memberantas penyakit infeksi ini sama sekali, pendekatan berikut dianjurkan untuk mengimunisasikan populasi dewasa, khususnya populasi wanita usia reproduktif:
·        Pendidikan bagi para petugas pelayanan kesehatan dan masyarakat luas mengenai bahaya infeksi rubella.
·        Vaksinasi bagi para ibu yang rentan sebagai bagian dari perawatan medis dan obstetrik rutin
·        Vaksinasi bagi semua wanita yang datang ke klinik keluarga berencana
·        Pengenalan dan vaksinasi bagi wanita yang belum memiliki kekebalan sesudah 
·        melahirkan bayi atau mengalami abortus
·        Vaksinasi bagi wanita yang tidak hamil dan mempunyai kerentanan yang diketahui lewat pemeriksaan serologi sebelum perkawinan
·        Jaminan imunitas bagi semua petugas rumab sakit yang dapat terpapar pasien rubela  
·        atau yang meng­alami kontak dengan ibu hamil 
Vaksinasi rubela dianjurkan agar tidak dilakukan sesaat sebelum kehamilan atau pada saat kehamilan, mengingat vaksin tersebut merupakan virus hidup yang dilemahkan.
The Centers for Disease Control (1987b) telah mempertahankan pencatatan sejak tabun 1971 untuk memantau efek vaksinasi terhadap janin. Sampai tahun 1986, 1.176 wanita yang rentan terhadap infeksi rubela telab diimunisasi dalam waktu 3 bulan sejak pembuahan dan untungnya tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa pemberian vaksin tersebut menimbulkan malformasi pada bayi atau janin. Kasus­ kasus di mana wanita yang rentan diimunisasi selama keha­milannya harus dilaporkan ke bagian pencatatan ini (Centers for Disease Control, Atlanta, Georgia, 404-329-1870).
Diagnosis
Diagnosis rubela kadangkala sulit ditegakkan. Bukan hanya gambaran klinisnya yang serupa dengan penyakit lain, namun juga kasus-kasus subklinis dengan viremia dan infeksi pada embrio serta janin tidak tcrdapat. Tidak adanya anti­ bodi terhadap rubela menunjukkan defisiensi imunitas. Adanya antibodi menandakan respon imun terhadap viremia rubela, yang mungkin sudah diperoleh di suatu tempat sejak beberapa minggu atau bertahun-tahun sebelumnya. Jika antibodi rubela maternal terlihat pada saat terpapar rubela atau sebelumnya, maka kekhawatiran ibu bisa diten­teramkan karena kemungkinan janin terkena infeksi tersebut sangat kecil. Orang yang tidak kebal dan mendapatkan viremia akan memperlihatkan titer antibodi yang puncaknya terjadi 1 hingga 2 minggu sesudah dimulainya gejala ruam, atau 2 hingga 3 minggu sesudah onset viremia, mengingat viremia secara klinis terlihat lebih dabulu sebagai penyakit yang nyata sekitar 1 minggu sebelumnya. Karena itu kece­patan respon antibodi dapat mempersulit diagnosis, kecuali bila serum sudah diantbil dahulu dalam waktu beberapa hari sesudah dimulainya gejala ruam. Jika, misalnya, spesimen pertama diambil 10 hari sesudah ruam, maka de­teksi antibodi tidak akan berhasil membedakan antara kedua kemungkinan ini: (1) bahwa penyakit yang baru saja terjadi benar-benar rubela; atau (2) bahwa penyakit tersebut bukan rubela, namun orang tersebut sudah kebal terhadap rubela.
Terlihatnya IgM yang spesifik pada ibu hamil menunjukkan suatu infeksi primer dalam waktu beberapa bulan.
Tes yang paling sering digunakan adalah HI (hemaglutination inhibition) tes. Pada tes ini terlihat rubela antibodi menghalangi aglutinasi dari sel darah merah oleh virus rubela. Pereriksaan ini membutuhkan waktu dan teknik yang kompleks sehingga digantikan dengan dengan teknik pemeriksaan yang lain. Metode yang baru berupa ELISA (enzyme linked immunoabsorbent assay), PHA (passive agglutination), IFA (Immunofluoresence assay), RIA (radioimmunoassay), dan radial immunodiffusion tes.
Sindrom Rubella Kongenital
Pada rubela seperti halnya pada infeksi virus yang lain, konsep tentang bayi yang terinfeksi versus bayi yang terjangkit harus dipahami. Rubela merupakan teratogen yang poten, dan 80 % dari ibu yang mendapatkan infeksi rubela serta ruam dalam usia kehamilan 12 minggu akan mempunyai janin dengan infeksi kongenital (Miller dkk., 1982).
Pada kehamilan minggu ke-13 hingga ke-14, insiden ini besarnya 54 persen, dan pada akhir trimester kedua 25 persen. Dengan semakin tinggi usia kehamilan, semakin kecil kemungkinan bagi infeksi tersebut untuk menimbulkan kelainan kongenital. Sebagai contoh, cacat rubela terlihat pada  semua bayi yang terbukti menderita infeksi intrauteri sebelum usia gestasional 11 minggu, namun hanya 35 persen bayi yang terinfeksi pada usia gestasional 13 hingga 16 minggu. Meskipun tidak terlihat cacat pada 63 anak yang terinfeksi setelah usia gestasional 16 minggu, namun anak-anak tersebut diikuti perkembangannya dalam waktu 2 tahun, dan extended rubella syndrome denganpanensefalitis progresif dan diabetes tipe 1 mungkin baru terlihat secara klinis setelah usia dua puluh atau tiga pulub tahun. Kernungkinan sepertiga dari bayi yang asimtomatik pada saat lahir akan memperlihatkan cedera pertumbuhan tersebut (American College of Ob­stetricians and Gynecologists, 1988).
Sindroma rubela kongenital mencakup satu atau lebih abnormnalitas berikut:
1.            Kelainan mata, termasuk katarak, glaukoma, mi­kroftalmia dan berbagai abnormalitas lainnya
2.            Penyakit jantung, termasuk patent ductus arte­riosus defek septum jantung dan stenosis arteri    
3.            Pulmonalis
4.            Cacat pendengaran
5.            Cacat sistem saraf pusat termasuk meningoensefalitis
6.            Retardasi pertumbuhan janin
7.            Trombositopenia dan anemia
8.            Hepatosplenomegali dan ikterus
9.            Pneumonitis interstisialis difusa kronis
10.       Perubahan tulang
11.       Abnormalitas kromosom
6. Sitomegalovirus
Sitomegalovirus merupakan organisme yang ada di mana-­mana serta pada hakekatnya menginfeksi sebagian besar manusia, bukti adanya infeksi janin ditemukan di antara 0,5 –2 % dari semua neonatus. Sesudah terjadinya infeksi primer yang biasanya asimtomatik, 10 % infeksi pada janin menimbulkan simtomatik saat kelahiran dan 5-25 % meninggalkan sekuele. Pada beberapa negara infeksi CMV 1 % didapatkan infeksi in utro dan 10-15 % pada masa prenatal(5)  Virus tersebut menjadi laten dan terdapat reaktivasi periodik dengan pelepasan virus meskipun ada antibodi di dalam serum. Antibodi humoral diproduksi, namun imunitas yang diperanta­rai oleh sel tampaknya merupakan mekanisme primer untuk terjadinya kesembuhan, dan keadaan kekebalan yang terganggu baik terjadi secara alami maupun akibat pemakaian obat-obatan akan meningkatkan kecenderungan timbulnya infeksi sitomegalovirus yang serius. Diperkirakan bahwa berkurangnya surveilans imun yang diperantarai oleh sel, menyebabkan janin-bayi tersebut berada dalam risiko yang tinggi untuk terjadinya sekuele pada infeksi ini.
Infeksi Maternal
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kehamilan meningkatkan risiko terjadinya infeksi sitomegalovirus maternal. Infeksi kebanyakan asimptomatik, tetapi 15 % mempunyai mononucleosis like syndrome dengan gejala: demam, paringitis, limpodenopathy, dan polyartritis. Jadi, infeksi primer yang ditularkan kepada janin pada sekitar 40 persen kasus, lebih sering berkaitan dengan morbiditas parah (Stagno dkk., 1986). Meskipun infeksi transplasental tidak universal, janin yang terinfeksi lebih besar kemungkinannya disertai dengan infcksi maternal selama paruh-pertama kehamilan. Sebagaimana virus herpes lainnya, imunitas maternal terhadap sitomegalovirus tidak mencegah timbulnya rekurensi (reaktivasi) dan juga tidak mencegah terjadinya infeksi kongenital. Dalam kenyataannya, mengingat sebagian besar infeksi selama kehamilan bersifat rekuren, mayoritas neonatus yang terinfeksi secara kongenital dilahirkan dari wa­nita-wanita ini. Untungnya, infeksi kongenital yang terjadi akibat infeksi rekuren lebih jarang disertai dengan sekuele yang terlihat secara klinis dari pada infeksi kongenital yang disebabkan oleh infcksi primer.
Infeksi Kongenital
Infeksi sitomegalovirus kongenital yang disebut penyakit inklusi sitomegalikmenimbulkan suatu sindrom yang mencakup berat badan lahir rendah, mikrosefalus, kalsifikasi intrakranial, korioretinitis, retardasi mental serta motorik, gangguan sensorineural, hepatosplenomegali, ikterus, anemia hemolitik dan purpura trombositopenik. Angka mortalitas di antara bayi yang terinfeksi secara kongenital ini dapat mencapai 20 – 30 %, dan lebih 90 % bayi yang berhasil hidup ternyata mendcrita retardasi mental, gangguan pendengaran, gangguan perkembangan psikoniotorik, epilepsy atau pun gangguan sistern saraf pusat lainnya (Pass dkk., 1980).
Diagnosis
Prenatal diagnosis efek infeksi pada janin dapat deteksi dengan USG dan Magnetic Resonace Imaging  dengan ditemukan mikrosephal, vetriculomegali dan serebral kalsifikasi.. Gold standar diagnosis infeksi CMV adalah kutur virus.  Diagnosis infeksi primer dibuat berdasarkan peningkatan titer IgG sebesar empat kali lipat pada serum, baik dalam keadaan akut maupun konvalesensi yang diukur sekaligus, atau dibuat dengan mendeteksi antibodi 1gM terhadap sitomegalovirus di dalam serum maternal. Sayangnya, tidak satupun di antara kedua metode ini yang benar-benar akurat dalam memastikan infeksi maternal. Celakanya tidak ada metode yang handal untuk memeriksa efek dari infeksi janin tersebut, termasuk pemeriksaan sonografi atau kultur cairan amnion untuk menemukan sitomegalovirus. 
USG dapat digunakan untuk mendiagnosis infeksi CMV tetapi terbatas dimana janin sudah mengalami gejala yang berat 
7. Streptokokus grup B
Group Streptoccocus B (GBS) adalah penyebab dari infeksi kongenital yang bInfeksi rat pada neonatus pada setiap 1000 kelahiran hidup atau 12.000 sampai  15.000 bayi setiap tahunnya di Amerika. Ini menjadi penyebab korioamnionitis, post partum endometritis dan sepsis pada ibu serta penyebab terpenting terjadinya asfiksia intra uterine.(5)
Dalam tahun 1970-an, infeksi streptokokus grup B pada neonatus mengalami peningkatan luar biasa, tetapi kemudian pada banyak rumah sakit terjadi penurunan frekuensi infeksi tersebut. Penyebab terjadinya peningkatan yang mencolok atau penurunan berikutnya tidak dengan jelas. Transmisi intrapartum streptokokus grup B dari traktus genitalis maternal dengan kolonisasi kuman tersebut kepada janin, dapat menimbulkan sepsis berat pads bayi segera sesudah dilahirkan. Tergantung pada populasi yang diteliti, sebanyak 10 hingga 40 persen ibu data stadium kehamilan lanjut mengalami kolonisasi streptokokus grup B dalam traktus genitalis bagian distal, dan separuh dari bayi yang baru dilahirkan akan terkena infeksi ini serta mengalami kolonisasi kuman tersebut. Antibodi yang ditransmisikan dari ibu akan melindungi kebanyakan bayi ini; tetapi, 1 hingga 2 persen dari bayi tersebut akan menderita kelainan secara klinis. Bayi-bayi prematur atau dengan berat badan lahir yang rendah merupakan bayi yang menghadapi risiko paling tinggi, namun lebih separuh dari kasus-kasus sepsis streptokokus neonatal ternyata berupa neonatus yang aterm. Bagi bayi yang mengalami infeksi ini, angka mortalitasnya mendekati 25 persen.
Pada septikemia akibat streptokokus grup B yang menandai penyakit dengan onset dini, tanda-tanda sakit yang serius biasanya terjadi dalam waktu 48 jam sesudah bayi lahir. Yang khas, selaput ketuban sudah pecah bebe­rapa saat sebelum persalinan, atau persalinan tersebut ter­jadi sebelum waktunya. Bayi dengan berat badan lahir yang rendah menghadapi kemungkinan lcbih besar untuk menderita infeksi klinis serius. Tanda-tanda infeksi dengan onset dini mencakup gawat pernafasan, apnea dan syok.
Karena itu, dari awal dokter harus sudah dapat membedakan antara kelainan akibat gawat pernafasan idiopatik dan takipnea sepintas pada neonatus. Pengobatan segera de­ngan pemberian antibiotik di saroping penanganan masalah respirasinya, harus dilakukan untuk mempertahankan ke­langsungan hidup bayi. Angka mortalitas pada penyakit dengan onset yang dini bervariasi dari 30 hingga 90 persen, dan prognosis untuk bayi prematur lebih buruk Penyakit dengan onset lanjut biasanya terlihat sehagai meningitis yang timbul sate minggu atau lebih sesudah la­hir. Meskipun serotipe pada penyakit dengan onset dini bervariasi antara bayi yang satu dengan lainnya, nantun mikroorganisme yang paling sering ditemukan dalam tubuh bayi adalah mikroorganisme yang sama seperti yang tcr­dapat di dalam vagina ibu. Kendati demikian, kasus-kasus meningitis paling sering discbabkan oleh mikroorganisme serotipe III. Angka mortalitasnya, meskipun cukup tinggi, lebih rendah pada meningitis dengan onset lanjut dari pada sepsis dengan onset dini.
Diagnosis
Diagnosis yang terbaik adalah dengan kolonisasi antepartum dari kolonisasi ibu yang diambil dari sepertiga bawah vagina dan daerah anorektal untuk dilakukan kultur, yang tidak adekuat untuk intrapartum skrenning. 
Pada pasien yang sedang bersalin diagnosis cepat dengan melakukan sediaan hapus dari vagina. Karena sensitifitasnya yang rendah maka tes deteksi GBS ini hanya dilakukan pada pada pasien dengan resiko tinggi adanya sepsis neonatus dan memerlukan pengobatan segera.
8. Listeriosis
Organisme ini adalah gram positip dimana 1 sampai 5 persen dari dewasa memiliki lesteria yang ditemukan di feses. Transmisi ditemukan dari makanan yang terkontaminasi atau susu yang busuk. Sering ditemukan pada penderita usia muda- tua, wanita hamil, penderita dengan daya tahan yang turun. Pada wanita hamil hanya berupa asimtomatik seperti panas badan influenza. Wanita dengan listeriosis dapat menyebabkan fetal infeksi yang terlihat beruapa disseminated granulomatous lesion. Pada bayi kemungkinan untuk terkena infeksi ini sebesar 50 persen. manifestasi pada bayi setelah tiga atau empat minggu setelah lahir. Infeksi ini serupa dengan dengan yang disebabkan oleh  grup B haemolytic.streptococcus. 
9. Morbus Hansen
Penyakit lepra (kusta) ditularkan oleh penderita lepra setelah hubungan erat dan lama. Biasanya penularan terjadi dalam masa kanak-kanak, akan tetapi mas latennya sangat lama , masa inkubasinya bervariasi dari beberapa bulan sampai beberapa tahun. 
     Infeksi laten menjadi nyata atau penyakitnya menjadi  lebih jelas oleh faktor-faktor yang menjadi daya tahan  penderita, seperti purbertas , kehamilan, dan 6 bulan  pertama setelah kelahiran , karena itu penderita   sebaiknya tidak menjadi hamil. Dalam penanganan lepra dalam kehamilan yang penting ialah pencegahan anak terhadap  infeksi.
     Mycobacterium dapat dijumpai dalam plasenta dan tali pusat. Walaupun demikian, seperti halnya dengan tuberculosis, infeksi kongenital sangat jarang. Duncan (1980), melaporkan dalam penelitiannya terhadap penderita lepra yang hamil, bahwa bayi yang dilahirkan lebih sering mengalami pertumbuhan janin yang terhambat dan plasentanyapun berukuran lebih kecil dari normal.Pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut mengalami keterlambatan pula. Keadaan ini mungkin disebabkan oleh status imunitas yang rendah pada ibu. Bila seorang ibu mengalami infeksi lepra, pemisahan anak-anak dari ibunya sejak kelahiran sangat dianjurkan, sampai ibunya sembuh benar. Apabila tidak, maka 25 % kemungkinan anaknya  menderita lepra.
      Pengobatan memerlukan waktu yang sangat lama (sampai beberapa tahun). Sekarang diberikan dengan obat-obat sulfa (diaminodietilsulfon), juga dalam kehamilan. Berdasarkan penelitian diketahui pula bahwa ibu yang menderita lepra dan mendapat  poengobatan sulfa, dapat kontak dengan bayinya pada saat menyusui saja. Dengan cara ini penularan tidak akan terjadi.
10. Toksoplasmosis
Toksoplasmosis merupakan infeksi protozoa yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Infeksi ditularkan lewat or­ganisme berkista dengan memakan daging mentah atau kurang matang, dan terinfeksi protozoa tersebut atau lewat kontak dengan kotoran kucing yang terinfeksi, atau infeksi ini dapat terjadi secara kongenital melalui penularan trans­plasenta.
Patogenesis
Imunitas maternal tampaknya memberikan perlindungan terhadap penularan transplasental parasit tersebut; dengan demikian, agar terjadi toksoplasmosis kongenital, ibu harus
mendapatkan infeksi tersebut selama kehamilannya. Sekitar sepertiga dari para wanita di Amerika Serikat, mendapatkan antibodi pelindung sebelum hamil dan kadar antibodi ini lebih tinggi di antara wanita yang memelihara kucing seba­gai binatang kesayangan.
Keluhan mudah lelab, nyeri otot dan kadangkala limfadenopati ditemukan pada ibu yang terinfeksi, namun in­feksi maternal tersebut paling sering terjadi secara subkli­nis. Infeksi pada kehamilan dapat mcnyebabkan abortus atau mengakibatkan bayi lahir-hidup dengan gejala penya­kit tersebut. Risiko terjadinya infeksi meningkat menurut lamanya kehamilan dan kurang-lebih 15,30 serta 60 persen dalam trimester pertama, kedua dan ketiga (Remington dan Desmonts, 1983).
        Virulensi infeksi janin lebih besar kalau infeksi maternal didapat secara awal dalam kehamilan-untungnya keadaan ini jarang terjadi. Kurang dari sepuluh persen neonatus dengan toksoplasmosis kongenital memperlihatkan tanda­ tanda sakit secara klinis pada scat lahir. Bayi yang terkena biasanya mcmperlihatkan tanda-tanda penyakit yang menyeluruh dengan berat badan lahir rendah, hepatosplenomegali, ikterus dan anemia. Sebagian bayi terutama men­derita penyakit neurologi dengan konvulsi, kalsifikasi in­trakranial dan hidrosefalus atau mikrosefalus. Kedua kelompok bayi tersebut pada akhirnya akan mengalami korioretinitis.
Diagnosis 
       Tes yang paling membantu untuk menegakkan diagnosis ini adalah Sabin- fieldman dye tes dan IgM- IFA ( IgM indirect fluorosence antibody tes).
Sabin- fieldman tes ini dilakukan pada akut infeksi frekuensi 2 bulan untuk mencapai kadar maksimum yaitu lebih dari 300 IU/ml atau bahkan lebih dari 3000 IU/ml. Titer yang tinggi didapatkan untuk beberapa bulan atau tahun. Titer yang rendah didapatkan sepanjang hidup. 
Pedoman untuk interpretasi adalah:
1.                  Bila dye tes ini negatip tidak imun dan resiko pada kehamilaya.
2.                  Bila dye tes positip perlu dilakukan segera tes IgM- IFA dan bila Tes IgM- IFA hasilnya negatip, pasen sudah terinfeksi sebelum masa kehamilan.
3.                  Jika dye tes dibawah 300 IU/ml dan IgM-IFA positip, dye tes harus diulang 3 minggu kemudian. Jika ada peningkatan titer artinya pasen terinfeksi dua bilan sebelumnya dan kemungkinan terjadinya infeksi kongenital. 
4.                  Jika dye tes diatas 300 IU/ml dan IgM- IFA positip kemungkinan besar ibu menderita toksoplasma aktif dan janin kemungkinan terinfeksi.
Infeksi kongenital didiagnosa dari :
1.                  Didapatkan toksoplasma dari cairan amnion dan darah janin.
2.                  Ditemukan IgM antibodi spesifik dan gamma glutamiltransferase dalam darah bayi setelah 22 miinggu.

Minggu, 08 Mei 2016

kehamilan resiko tinggi

PAHAMI KEHAMILAN RESTI (Resiko Tinggi)



Tidak semua kehamilan dapat digolongkan dengan kehamilan normal. Beberapa kehamilan memang memerlukan pengawasan dan konseling yang bersifat khusus. Apabila sejak awal kehamilan ibu tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan, maka dokter maupun bidan tidak mampu melakukan deteksi dini kelainan ataupun komplikasi yang kemungkinan ditimbulkan dari kehamilan ini. Faktor resiko tinggi maupun kelainan yang terdapat baik pada ibu maupun janin akan memberikan dampak bagi proses persalinan maupun berlangsungnya 

kehamilan. Untuk diperlukan tambahan wawasan bagi ibu hamil untuk mengetahui apakah ibu tergolong resiko tinggi ataupun tidak. Ibu yang termasuk dalam kehamilan resiko tinggi: 

  1. Ibu hamil dengan umur kurang dari 20 tahun 
  2. Hamil dengan umur lebih dari 35 tahun 
  3. Ibu dengan tinggi badan kurang dari 145cm 
  4. Ibu dengan berat badan kurang dari 45 kg 
  5. Ibu dengan jarak umur anak terakhir dengan kehamilan ini kurang dari 2 tahun 6. Ibu dengan jumlah anak lebih dari 4 
Tanda Bahaya Kehamilan Persalinan

Perdarahan Jalan Lahir
Perdarahan yang berasal dari jalan lahir bisa menyebabkan keguguran atau abortus. Untuk itu para ibu hamil juga perlu untuk segera mengatasi stres depresi ibu bila mengalaminya. 
Pada masa hamil muda, keadaan ini dapat menimbulkan bahaya keguguran pada janin dalam kandungan. Pada usia kehamilan yang lanjut mendekati cukup bulan, bila tiba tiba mengalami keluar darah merah segar maupun gumpal kehitaman dari jalan lahir kemungkinan besar berasal dari ari-ari atau plasenta yang terlepas sebagian sebelum bayi lahir. Pada kondisi ini sebaiknya ibu hamil segera di bawa ke tempat pelayanan kesehatan.

Keluar Pecah Air Ketuban
Bagi ibu hamil dalam usia kehamilan berapapun baik itu ibu hamil trmester pertama, trimester kedua maupun trimester ketiga bila mengalami ada cairan keluar dari jalan lahir, baik itu merembes maupun mengalir, segera menuju ke tempat pelayanan kesehatan untuk memastikan apakah ibu mengalami pecah ketuban. 
Hal yang perlu untuk diperhatikan pula bila terjadi semacam ini perhatikan warna air ketuban atau perembesan air ketuban, beritahukan pada tenaga kesehatan baik itu bidan atau pun dokter ketika memeriksa misalnya banyaknya air ketuban hingga membasahi sprei atau berapa kali ganti pembalut, warna dan baunya.

Hiperemesis Gravidarum Atau Juga Muntah Terus Menerus Tidak Mau Makan
Perubahan ibu hamil bisa berupa perubahan fisik maupun psikologis yang disebabkan utamanya adalah oleh karena perubahan hormonal. Pada kehamilan, ada perubahan hormon tubuh yang berguna untuk mempertahankan pertumbuhan dan menjaga kehamilan. 
Namun pada beberapa ibu hamil hal ini dapat mengakibatkan muntah berlebihan bahkan hingga kesadaaran menurun akibat kekurangan cairan dan zat makanan. Tentunya keadaan yang semacam ini akan membahayakan kondisi ibu dan janin dalam kandungan bila tidak segera ditangani dengan baik pula.

 Berikut akan dijelaskan kenapa hal-hal di atas merupakan resiko tinggi bagi ibu hamil:

1. Umur ibu kurang dari 20 tahun

Bagi ibu hamil dengan umur yang kurang dari 20 tahun bukan berarti ibu termasuk tidak normal melainkan ibu tergolong dengan resiko tinggi. Hamil pada usia remaja tentu akan berdampak besar bagi masa depan ibu. Organ reproduksi remaja belum matang untuk menerima kehamilan. Dari kesiapan psikologis untuk menjalani hidup berumah tangga juga akan berpengaruh bagi ibu muda. Memang ada kemungkinan ibu untuk melahirkan secara normal, namun untuk kehamilan ibu sendiri harus dalam pengawasan. Resiko yang kemungkinan dialami yaitu perdarahan pasca persalinan, pre-eklamsi sampai terjadinya eklamsi, bayi beresiko mengalami kecacatan kongenital. Resiko yang kemungkinan dialami adalah terjadinya kanker serviks atau kanker leher rahim dimana yang menjadi faktor predisposisinya yaitu kontak seksual pertama kali di usia muda.  
2. Hamil dengan umur diatas 35 tahun 
Beberapa wanita hamil di atas umur 35 tahun. Perlu dipahami bahwa semakin tua umur wanita maka kualitas sel telur yang dihasilkan juga semakin menurun, sehingga resiko melahirkan bayi dengan kelainan/ cacat sangat besar terjadi. Selain itu masih ada beberapa resiko lain yang kemungkinan bisa ditimbulkan seperti kehamilan kembar, menderita diabetes gestasional sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat badan besar, tekanan darah tinggi, resiko bayi yang dilahirkan dengan kelainan kromosom (sindrom down) dan besar kemungkinan terjadinya keguguran di awal kehamilan. 
3. Tinggi badan ibu kurang dari 145 cm 
 Tinggi badan seseorang mempengaruhi bentuk panggul seseorang. Tinggi badan yang kurang dari 145 cm beresiko terjadinya panggul sempit.Panggul yang merupakan jalan lahir bagi bayi. Bayi dapat lahir dengan lancar apabila jalan yang dilaluinya tidak ada hambatan. Apabila jalan untuk lahir sempit dan tidak sesuai dengan ukuran bayi, maka dapat di pastikan bayi tidak bisa dilahirkan secara normal. Namun, tidak semua ibu hamil dengan tinggi kurang dari 145cm diharuskan untuk operasi caesar. Semua tergantung dari kesesuaian antara bentuk panggul dengan besar bayi. 
4. Berat badan ibu kurang dari 45 kg 
Saat dimulainya kehamilan ibu memiliki berat badan kurang dari 45kg, sebaiknya ibu harus melakukan tindakan untuk meningkatkan berat badan ibu dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan frekuensi makan ditingkatkan. Berat badan yang rendah (< 45 kg) akan sangat berpengaruh terhadap asupan nutrisi ke janin. Selain itu fungsi plasenta juga bisa mnegalami penurunan fungsi akibat dari transport nutrisi yang tidak adekuat. Resiko lain yang mungkin ditimbulkan adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
5. Jarak anak terakhir dengan kehamilan sekarang kurang dari 2 tahhun 
 Alat reproduksi memerlukan waktu untuk dapat berfungsi dengan sempurna. Waktu yang diperlukan untuk masa pemulihan ini minimal 2 tahun. Beberapa penelitian menyatakan bahwa resiko untuk melahirkan dengan jarak kurang dari 2 tahun itu besar. Ibu beresiko 3 kali lebih besar melahirkan bayi dengan gangguan perkembangan. Pada studi yang dilakukan oleh Dr Keely Cheslack Postava dari Colombia University menyatakan bahwa ibu dengan jarak kehamilan terlalu dekat semakin meningkatkan resiko bayi lahir dengan autisme. 
6. Jumlah anak lebih dari 4 
 Jumlah anak yang terlalu banyak tentu akan berhubungan dengan sistem alat reproduksi. Banyak komplikasi yang bisa ditimbulkan dengan seringnya melahirkan. Komplikasi bisa terjadi baik selama kehamilan maupun saat persalinan. Komplikasi selama kehamilan yaitu terjadinya perdarahan antepartum, terlepasnya sebagian atau seluruh bagian plasenta yang bisa menimbulkan kematian janin, tertutupnya jalan lahir oleh plasenta sehingga perlu pemeriksaan dan penanganan dari dokter spesialis kandungan anda. 
Sekilas telah dijelaskan tentang kehamilan resiko tinggi yang memang patut diwaspadai baik oleh ibu maupun suami. Sehingga diharapkan ibu dan bayi pada akhirnya sehat dan selamat serta ibu melahirkan bayi yang berkualitas. semoga bermanfaat info yang telah di share bagi ibu yang sedang hamil maupun mencari informasi memulai kehamilan.

kehamilan ektopik

Apa itu kehamilan ektopik dan bagaimana cara mengetahuinya? 


Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang berkembang diluar rahim, biasanya didalam tuba falopi. Situasi ini membahayakan nyawa karena dapat menyebabkan pecahnya tuba falopi jika kehamilan berkembang. Perawatannya harus dilakukan dengan cara operasi atau melalui obat-obatan. Namun, aborsi medis tidak dapat mengobati kehamilan diluar rahim!
Anda dapat memastikan apakah kehamilan anda berada didalam rahim dengan cara USG. Bila anda menggunakan Mifepristone dan Misoprostol untuk mengakhiri kehamilan tapi belum melakukan USG, bisa jadi kehamilan ektopik anda tidak terdeteksi. Jika anda tidak mengeluarkan jaringan atau darah setelah menggunakan Misoprostol, mungkin anda mengalami kehamilan ektopik. Apabila anda tiba-tiba merasa sangat nyeri di bagian perut atau punggung, atau jika anda merasa akan pingsan atau benar-benar pingsan, atau anda merasa sakit di area bahu, kemungkinan anda mengalami kehamilan ektopik yang telah pecah dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Kehamilan ektopik dapat diobati bahkan ditempat yang membatasi akses aborsi.

Kehamilan ektopik terjadi ketika telur yang dibuahi tidak menempel dan tumbuh dalam rahim seperti umumnya, tetapi menempel dan tumbuh di tempat lain, biasanya tuba falopi. tuba falopi adalah saluran kecil yang dilewati sel telur yang dibuahi untuk menuju rahim. Jika kehamilan berlanjut, embrio akan berkembang dan menjadi terlalu besar dalam tuba falopi sehingga menyebabkan tuba falopi pecah. Kehamilan ektopik tidak dapat dilanjutkan dan harus dikeluarkan untuk menyelamatkan nyawa perempuan. Perawatan oleh ginekolog diperlukan untuk memastikan kesehatan perempuan. Jika tidak diobati, resiko yang dihadapi adalah perdarahan berat internal disebabkan oleh pecahnya tuba falopi.
Aborsi medis menggunakan Mifepristone-Misoprostol tidak bisa mengobati kehamilan ektopik.. jika seorang perempuan mengalami kehamilan ektopik, komplikasi tidak terkait dengan aborsi medis yang ia lakukan.“…Tidak ada bukti menunjukkan bahwa aborsi medis menyebabkan komplikasi yang berbeda pada perempuan dengan kehamilan ektopik. 
Jika kehamilan ektopik tidak ditangani embrio dapat terus berkembang diluar rahim bahkan sesudah menggunakan Mifepristone dan Misoprostol. Embrio akan terus berkembang , dan bila tidak dikeluarkan, akan menyebabkan pecahnya tuba falopi saat embrio tumbuh terlalu besar. Bila tidak ditangani, resiko perdarahan internal karena pecahnya tuba falopi dapat terjadi. Ginekolog di negara manapun menangani perempuan dengan kondisi tersebut, bahkan negara yang sangat membatasi aborsi.
Seorang perempuan hamil yang mengalami gejala-gejala berikut ini kemungkinan mengalami kehamilan ektopik : nyeri di perut atau panggul, kram pada satu sisi panggul, perdarahan dalam jumlah kecil yang tidak biasa, payudara sakit, mual, nyeri di bagian punggung bawah. 

Faktor Risiko Kehamilan Ektopik

Penyebab pasti dari tiap kehamilan ektopik terkadang sulit diketahui. Tetapi terdapat beberapa faktor risiko yang diduga dapat memicu kondisi ini. Faktor-faktor tersebut meliputi:
  • Alat kontrasepsi. Penggunaan alat kontrasepsi spiral atau intrauterine device (IUD) diduga sebagai faktor pemicu utama sehubungan dengan kehamilan ektopik.
  • Pernah mengalami kehamilan ektopik. Wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik memiliki risiko 15-20 persen lebih tinggi untuk kembali mengalaminya.
  • Infeksi atau inflamasi. Wanita yang pernah mengidap inflamasi tuba falopi atau penyakit radang panggul akibat penyakit seksual menular, seperti gonore atau chlmydia memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kehamilan ektopik.
  • Masalah kesuburan. Pengobatan untuk masalah kesuburan terkadang dapat memicu kehamilan ektopik.
  • Proses sterilisasi dan sebaliknya. Prosedur pengikatan tuba atau pembukaan ikatan tuba yang kurang sempurna juga berisiko memicu kehamilan ektopik.

Gejala Kehamilan Ektopik

Pada awalnya, kehamilan ektopik cenderung tanpa gejala atau memiliki tanda yang mirip dengan kehamilan biasa sebelum akhirnya muncul gejala lain yang mengindikasikan kehamilan ektopik. Di antaranya adalah:
  • Nyeri pada tulang panggul.
  • Menstruasi berhenti.
  • Pendarahan ringan dari vagina.p
  • pusing atau lemas.
  • Mual dan muntah.
  • Nyeri pada bahu.
  • Rasa sakit atau tekanan pada rektum saat buang air besar.
  • Jika tuba falopi sobek, akan terjadi pendarahan hebat yang mungkin memicu hilangnya kesadaran.
Kehamilan ektopik termasuk kondisi medis yang membutuhkan penanganan darurat. Karena itu, sebaiknya Anda segera ke rumah sakit jika mengalami gejala-gejala seperti di atas.

Diagnosis Kehamilan Ektopik

Selain menanyakan kondisi kesehatan secara umum, dokter akan mengadakan pemeriksaan fisik pada rongga panggul. Tetapi kehamilan ektopik tidak bisa dipastikan hanya melalui pemeriksaan fisik. Dokter juga membutuhkan USG atau tes darah.
Metode USG yang paling akurat untuk mendeteksi kehamilan ektopik adalah USG transvaginal. Prosedur ini akan mengonfirmasi lokasi kehamilan ektopik sekaligus detak jantung janin.
Jika lokasi kehamilan ektopik tidak dapat diketahui melalui USG dan kondisi Anda stabil, dokter akan menganjurkan tes darah untuk konfirmasi. Tes ini digunakan untuk mendeteksi keberadaan hormon hCG (Human chorionic gonadotropin). Hormon ini diproduksi plasenta selama awal kehamilan.

Langkah Penanganan Kehamilan Ektopik

Sel telur yang telah dibuahi tidak akan bisa tumbuh dengan normal jika tidak di dalam rahim. Karena itu, jaringan ektopik harus diangkat untuk menghindari komplikasi yang dapat berakibat fatal.
Wanita yang dicurigai mengalami kehamilan ektopik segera dibawa ke rumah sakit untuk menjalani penanganan secepatnya. Kehamilan ektopik yang terdeteksi secara dini tanpa rasa nyeri yang signifikan dan tidak ada janin yang berkembang secara normal dalam rahim umumnya ditangani dengan suntikan methotrexate. Obat ini akan menghentikan pertumbuhan sekaligus menghancurkan sel-sel yang sudah terbentuk.
Dokter akan memantau kadar hCG pasien setelah menerima suntikan. Jika kadar hCG dalam darah pasien tetap tinggi, hal ini biasanya mengindikasikan bahwa pasien membutuhkan suntikanmethotrexate lagi. Potensi efek samping obat ini meliputi mual, muntah, serta gangguan hati.
Kehamilan ektopik juga dapat ditangani dengan operasi. Prosedur ini biasanya dilakukan melalui operasi lubang kunci atau laparoskopi. Tuba falopi yang ditumbuhi jaringan ektopik akan diperbaiki jika memungkinkan.
Diagnosis dan hasil tes yang tepat tentunya sangat membantu. Diperkirakan lebih dari 80 persen wanita yang didiagnosis mengalami kehamilan ektopik dapat pulih dengan terapi obat dan/atau prosedur laparoskopi tanpa pengangkatan tuba falopi.

Komplikasi Kehamilan Ektopik

Diagnosis yang tidak tepat dan penanganan yang terlambat untuk kehamilan ektopik dapat memicu pendarahan hebat dan bahkan kematian akibat sobeknya tuba falopi atau rahim. Jika mengalami komplikasi ini, pasien harus menjalani operasi darurat melalui bedah terbuka. Tuba falopi kemungkinan dapat diperbaiki, tapi umumnya harus diangkat.
Penanganan dengan operasi pun memiliki risiko tersendiri, seperti pendarahan, infeksi, serta kerusakan pada organ-organ di sekitar bagian yang dioperasi.
Kehamilan ektopik tidak bisa dicegah sepenuhnya. Tetapi Anda tetap dapat menurunkan kemungkinannya dengan menghindari atau mengurangi faktor risiko tertentu. Misalnya, melakukan pemeriksaan dengan tes darah dan USG sebagai pendeteksian awal atau memantau perkembangan kehamilan, khususnya wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik.





Jumat, 06 Mei 2016

Asuham Neonatus dengan Jejas Persalinan

ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS PERSALINAN


A. CAPUT SUKSEDANEUM
       A.    Defenisi
Kaput suksedaneum adalah benjolan atau pembengkakan karena adanya timbunan getah bening di kepala dibawah lapisan apinerose diluar periostium (pada presentasi kepala) yang terjadi pada bayi baru lahir.
       B.     Etiologi
Kaput suksedaneum terjadi karena adanya tekanan yang kuat pada kepala pada saat memasuki jalan lahir, sehingga terjadi bendungan sirkulasi perifer dan limfe yang disertai dengan pengeluaran cairan tubuh ke jaringan ekstravaskuler. Keadaan ini bisa terjadi pada partus lama atau persalinan dengan vacuum ekstraksi.
      C.    Gejala :
a.       Udema di kepala
b.      Terasa lembut dan lunak pada perabaan
c.       Benjolan berisi serum dan kadang bercampur dengan darah
d.      Udema melampaui tulang tengkorak
e.       Batas yang tidak jelas
f.       Permukaan kulit pada benjolan berwarna ungu atau kemerahan
g.      Benjolan akan menghilang sekitar 2-3 hari pengobatan
       D.    Penatalaksanaan:
1.      Perawatan bayi sama dengan perawatan bayi normal
2.      Pengawasan keadaan umum
3.      Berikan lingkungan yang baik, adanya ventilasi dan sinar matahari yang cukup
4.      Pemberian ASI yang adekuat, bidan harus mengajarkan teknik menyusui yang benar.
5.      Pencegahan infeksi harus dilakukan untuk menghindari adanya infeksi pada benjolan
6.      Berikan konseling kepada orang tua tentang:
a.       Keadaan trauma yang dialami oleh bayi
b.      Jelaskan bahwa benjolan akan mengilang dengan sendirinya setelah 2 sampai 3 minggu tanpa pengobatan
c.       Perawatan bayi sehari-hari
d.      Manfaat dan teknik pemberian ASI
E.     KOMPLIKASI CAPUT SUCCEDANEUM
1.    Infeksi
Infeksi pada caput succedaneum bisa terjadi karena kulit kepala terluka. (kosim, 2003)
2.    Ikterus
Pada bayi yang terkena caput succedanieum dapat menyebabkan ikterus karena inkompatibilitas faktor Rh atau golongan darah A, B, O antara ibu dan bayi. (Kosim, 2003)
3.    Anemia
Anemia bisa terjadi pada bayi yang terkena caput succedanieum karena pada benjolan terjadi perdarahan yang hebat atau perdarahan yang banyak.

B.      CEPHAL  HEMATOM
      A.    Defenisi
Adalah pembengkakan pada daerah kepala yang disebabkan karena adanya penumpukan darah akibat perdarahan pada subperiostinum.
      B.     Etiologi
 Dapat disebabkan oleh beberapa kondisi seperti adanya tekanan jalan lahir yang terlalu lama, molase yang terlalu kuat, dan partus degan tindakan.
      C.    Tanda dan gejala
Tanda dan gejala yang muncul pada bayi dengan sefal heatoma adalah sebagai berikut:
1.      Kepala tampak bengkak dan berwarna merah
2.      Tampak benjolan dengan batas yang tegas dan tidak melampaui tulang tengkorak
3.      Pada perabaan terasa mula-mula keras kemudian menjadi lunak
4.      Benjolan tampak jelas ± 6 sampai 8 jamsetelah lahir
5.      Benjolan membesar pada hari kedua dan ketiga
6.      Benjolan akan menghilang dalam beberapa minggu
      D.    Penatalaksanaan
1.      Perawatan yang dilakukan hampir sama dengan kaput suksedaneum
2.      Jika ada luka di jaga agar tetap bersih dan kering
3.      Lakukan pemberian vitamin K
4.      Apabila terjadi fraktur tulang tengkorak, harus dilakukan pemeriksaan lain seperti foto torak
5.      Lakukan pemeriksaan radilogik apabila dicurigai terdapat gangguan susunan saraf pusat, seperti nampak benjolan yang sangat luas.
       E.     Komplikasi Cephalhematoma antara lain:
1.  Ikterus
2.  Anemia
3.  Infeksi
4.  Kalasifikasi mungkin bertahan selama > 1 tahun Gejala lanjut yang mungkin terjadi yaitu anemia dan hiperbilirubinemia. Kadang-kadang disertai dengan fraktur tulang tengkorak di bawahnya atau perdarahan intra kranial.


C.      BRAKIAL PALSI
Brakial palsi adalah kelumpuhan pada pleksus brakialis
      A.    Etiologi :
Brakial palsi disebabkan oleh beberapa hal berikut:
1.      Tarikan lateral pada kepala dan leher pada saat melahirkan bahu.
2.      Lengan ekstensi melewati kepala pada presentasi bokong atau terjadi tarikan yang berlebihan pada bahu
      B.     Terbagi atas :
             Kelainan ini dibagi atas :
-       paralisis Duchenne – Erb, yaitu kelumpuhan bagian-bagian tubuh yang disarafi oleh cabang-cabang C5 dan C6 dari plexus brachialis. Pada keadaan ini ditemukan kelemahan untuk fleksi, abduksi, serta memutar ke luar disertai hilangnya refleks biseps dan Moro.
-       Paralisis Klumpke, yaitu kelumpuhan bagian-bagian tubuh yang disarafi oleh cabang C8-Th 1 dari plexus brachialis. Disini terdapat kelemahan oto-otot fleksor pergelangan, sehingga bayi kehilangan refleks mengepal.
   
      C.    Tanda gejala :
1.      Gangguan motorik pada lengan atas bahkan tidak ada gerakan
2.      Lengan atas pada kedudukan ekstensi bahu dan abduksi
3.      Hilangnya reflek moro dan biseps
D.    Penatalaksanaan
1.      Immobilisasi parsial dan penempatan lengan yang sesuai untuk mencegah terjadinya kontraktur
2.      Memberi penguat atau bidai ± 1-2 minggu
3.      Rujuk.


D.      FRAKTUR KLAVIKULA
      A.    Defenisi
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Fraktur klavikula adalah patah tulalng klavikula pada saat proses  persalinan, biasanya karena terjadi kesulitan dalam melahirkan bahu pada kelahiran dengan presentasi kepala dan melahirkan lengan pada presentasi bokong.
      B.     Fajtor predisposisi fraktur klavikula adalah :
a.       Bayi yang berukuran besar
b.      Distosia bahu
c.      : Partus dengan letak sungsang
d.      Persalinan traumatic
      C.    Tanda dan gejala
1.      Bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang mengalami gangguan
2.      Bayi menjadi rewel karena sakit
3.      Hilangnya reflek moro
4.      Adanya krepitasi dan perubahan warna kulit di daerah yang sakit
      D.    Penatalaksanaan
1.      Batasi pergerakan bayi
2.      Immobilisasi lengan dan bahu pada sisi yang sakit
3.      Rawat bayi dengan hati-hati
4.      Berikan nutrisi yang adekuat (Pemberian ASI yang adekuat dengan cara mengajarkan kepada ibu cara peberian ASI dengan posisi tidur, dll)
5.      Rujuk

Selasa, 03 Mei 2016

imunisasi

Apa itu imunisasi ?

Imunisasi adalah upaya pencegahan dengan sengaja memberikan kekebalan atau imunitas pada anak, sehingga anak itu walaupun mendapatkan infeksi tidak akan meninggal atau menderita cacat (sequelae). Umumnya anak yang telah imun itu bereaksi terhadap infeksi sebagai berikut:
1. Tidak sakit sama sekali.
2. Sakit namun ringan sekali, sehingga tidak menimbulkan/ mengakibatkan cacat dan tidak meninggal.
Cacat inilah yang mengakibatkan kekhawatiran, kesedihan dan kesulitan dikemudian hari tidak hanya pada para orang tua, namun yang paling berat pengaruhnya tentunya pada anak tersebut. Anak yang cacat tidak saja kesulitan dalam bergaul, namun juga tidak mampu mandiri sehingga dia akan selalu merepotkan orang tuanya dan masyrakat disekelilingnya.
Upaya pencegahan agar tidak timbul kecacatan pada anak merupakan upaya yang bersifat luas yang tidak akan berhasil bila orang-orang dan alam sekitar anak itu tidak diikut sertakan.

Apa tujuan imunisasi?
Tujuan imunisasi adalah agar memdapatkan imunitas atau kekebalan anak secara individu dan eradikasi atau pembasmian sesuatu penyakit dari penduduk sesuatu daerah atau negeri. Sedikitnya 70% dari penduduk suatu daerah atau negeri harus mendapatkan imunisasi. Yang tidak kalah pentingnya adalah imunisasi ulang (booster) yang perlu dilaksanakan dalam waktu-waktu tertentu untuk meningkatkan kembali imunitas/kekebalan penduduk.

Macam-macam Imunitas
Berdasarkan asal mulanya, imunitas dibagi dalam dua hal:
1. Imunitas pasif
Imunitas pasif ini ada dua macam yaitu (a) imunitas pasif bawaan yang dibawa oleh bayi baru lahir (neonitas) sampai bayi berumur 5 bulan. Neonatus mendapatkan imunitas dari ibu sewaktu di dalam kandungan, yaitu berupa zat anti (antibodi) yang melalui jalan darah menembus plasenta. (b) imunitas pasif didapat yaitu kekebalan/ zat anti yang didapatkan oleh anak dari luar dan hanya berlangsung pendek, yaitu 2-3 minggu karena zat anti seperti ini akan dikeluarkan lagi dari tubuh anak.

2. Imunitas aktif
Imunitas aktif ini dibagi menjadi dua:
(a) didapat secara alami (naturally aquared) yaitu kekebalan yang didapatkan setelah seseorang mendapatkan suatu penyakit. Sebagai contoh adalah kekebalan terhadap cacar air setelah terlebih dulu terkena penyakit cacar air. Anak-anak di negara berkembang tanpa imunisasi yang teratur dan menyeluruh akan terkena infeksi berbentuk silent abortive yang menyebabkan sebagian anak menderita sakit yang ringan, kemudian sembuh dengan sendirinya dan imun. Hanya anak dalam keadaan tertentu menjadi sakit berat.

(b) sengaja didapat (artificially induced)
Cara pemberian imunitas ini terdiri dari tiga macam antigen:
(1) Live attenuated bacteria or virus
Yang dipakai ialah kuman yang masih hidup namun telah dijinakkan (attenuated), sehinggaga tidak dapat menyebabkan penyakit melainkan masih dapat mengakibatkan imunitas, misalnya smallpox (cacar air), bacillus calmette guarin (BCG), polio Sabin, Campak dan pada waktu di luar negeri juga telah ada vaksin meningitis, encephalitis, trakoma dll.
(2) Killed bacteria or virus
Misalnya kolera, tifus abdominalis, paratifus, pertusis, dan polio salk.
(3) Toksoid
Yang dipakai adalah toksin yang telah diolah sedemikian rupa, misalnya dengan formal dan kemudian diabsorbsi dengan alumunium sehingga biasanya dianamakan formol toxoid/alum precipitated. Artinya absorbs dengan alumunium ialah agar dapat merupakan depot berlangsung sedikit demi sedikit dalam jangka waktu lama, oleh karena itu lebih efektif dan dapat menghasilkan kuantitas zat anti yang lebih besar.


Kesimpulan
Bila imunisasi dilakukan secara benar, maka akan didapatkan kemanfatan sebagai berikut: (1) dapat menurunkan morbiditas (angka kesakitan), (2) menurunkan mortalitas (angka kematian), (3) terhindar dari kecacatan, (4) dan Eradikasi penyakit di suatu daerah atau negeri.

Terimakasih.

Senin, 18 April 2016

ALAT KONTRASEPSI KB

ALAT KONTRASEPSI KB


A.    Penanganan efek samping metode KB sederhana
1.      Kondom
1.      Iritasi lokal pada penis: pastikan pada kondom tidak terdapat bahan tambahan, jika timbul reaksi pada setiap penggunaan, gunakan metode lain dan bantu klien memilih metode lain.
2.      Kondom rusak atau bocor sebelum pemakaian: buang dan pakai kondom yang baru atau gunakan spermisida.
3.      Kondom bocor saat berhubungan: pertimbangkan pemberian Morning After Pil.
4.      Mengurangi kenikmatan berhubungan seksual: gunakan kondom yang lebih tipis atau ganti metode kontrasepsi lain.
2.      Diafragma
1.      Infeksi saluran kemih: berikan antibiotik, sarankan mengosongkan kandung kemih pasca senggama atau gunakan metode kontrasepsi lain.
2.      Rasa nyeri pada tekanan terhadap kandung kemih/rektum: lakukan penilaian kesesuaian ukuran forniks dan diafragma, bila terlalu besar, coba ukuran yang lebih kecil. Lakukan follow up masalah yang telah ditangani.
3.      Timbul cairan vagina yang berbau: periksa adanya IMS (Infeksi Menular Seksual) atau benda asing dalam vagina. Sarankan lepas segera diafragma pasca senggama. Apabila kemungkinan ada IMS, lakukan pemrosesan alat sesuai dengan pencegahan infeksi.
4.      Luka dinding vagina akibat tekanan pegas diafragma: hentikan penggunaan diafragma untuk sementara dan gunakan metode lain. Bila sudah sembuh, periksa kesesuaian ukuran forniks dan diafragma.
B.    Penanganan efek samping metode KB modern
1) Pil
Terjadi amenorhoe
–     Pastikan hamil atau tidak, jika tidak hamil maka tidak diperlukan tindakan khusus, cukup lakukan konseling.
–     Bila amenorhoe berlanjut, atau hal tersebut membuat klien khawatir, maka lakukan rujukan ke dokter kandungan.
–     Bila hamil, hentikan pil, lanjutkan kehamilan dan yakinkan klien bahwa pil yang telah diminumnya tidak memberikan efek terhadap janin.
–     Bila diduga terjadi kehamilan ektopik, lakukan rujukan.
Perdarahan bercak/Spotting
–     Lakukan tes kehamilan atau pemeriksaan ginekologik.
–     Apabila tidak menimbulkan masalah kesehatan/tidak hamil, tidak perlu tindakan khusus.
–     Jelaskan kembali bahwa efek samping ini biasa terjadi pada penggunaan 3 bulan pertama dan akan berhenti.
–     Apabila klien tetap tidak menerima keadaan tersebut, bantu memilih metode kontrasepsi lain.
Mual, pusing/muntah
–     Tes kehamilan atau pemeriksaaan ginekologi, bila tidak hamil berikan konseling cara minum pil yang benar.
2) Suntik
Amenorrhoe
–     Jelaskan kembali efek samping KB suntik.
–     Pastikan kehamilan, jika tidak hamil maka tidak perlu diberi pengobatan khusus, jelaskan bahwa darah haid tidak berkumpul dalam rahim.
–     Bila klien tidak menerima kelainan haid tersebut, suntikan sebaiknya tidak dilanjutkan, bantu klien memilih jenis alat kontrasepsi yang lain.
–     Bila klien hamil, hentikan penyuntikan dan jelaskan bahwa hormon yang terdapat dalam suntik KB sedikit sekali pengaruhnya terhadap janin.
Perdarahan
–     Jelaskan bahwa perdarahan ringan/bercak (spotting) sering dijumpai, namun tidak berbahaya. Apabila tetap berlanjut lebih dari 3 bulan pemakaian, perlu dicari penyebab perdarahan tersebut. Sedangkan apabila tidak ditemukan penyebabnya, maka tanyakan pada klien apakah masih tetap ingin menggunakan metode kontrasepsi suntik, jika tidak bantu klien memilih metode kontrasepsi yang lain.
–     Bila ditemukan penyakit radang panggul atau penyakit akibat hubungan seksual, klien perlu diberi pengobatan yang sesuai, klien dapat terus melanjutkan penggunaan kontrasepsi suntik.
–     Bila perdarahan banyak/memanjang (lebih dari 8 hari) atau dua kali lebih banyak dari perdarahan yang biasanya dialami pada siklus haid normal, jelaskan bahwa hal tersebut biasa terjadi pada bulan pertama suntikan.
–     Bila gangguan tersebut menetap, perlu dicari penyebabnya, dan bila ditemukan kelainan ginekologik, klien perlu diobati/dirujuk.
–     Bila perdarahan yang terjadi tidak dapat diterima klien/mengancam kesehatan klien, maka hentikan penyuntikan, bantu klien memilih metode kontrasepsi yang sesuai.
3) Implant
Amenorrhea
–     Pastikan kehamilan, apabila tidak hamil, lakukan konseling tidak perlu penanganan khusus.
–     Bila klien tidak dapat menerima keadaannya, cabut implant dan anjurkan menggunakan kontrasepsi lain.
–     Bila terjadi kehamilan, dan klien ingin melanjutkan kehamilan, cabut implant dan jelaskan bahwa hormon progestin sintetik pada implant tidak berbahaya bagi janin.
–     Bila diduga terjadi kehamilan ektopik, rujuk klien.
Perdarahan bercak/Spotting
–     Jelaskan kembali bahwa perdarahan ringan/bercak sering ditemukan terutama pada tahun pertama panggunaan.
–     Bila klien tetap saja mengeluh dan merasa tidak nyaman atas keluhannya dan ingin tetap melanjutkan pemakaian, maka dapat diberikan pil kombinasi selama satu siklus dan berikan Ibuprofen 3x800mg selama 5 hari, perdarahan akan terjadi setelah pil kombinasi habis.
–     Apabila terjadi perdarahan lebih dari biasanya, maka berikan 2 tablet pil kombinasi untuk 3-7 hari dan kemudian dilanjutkan dengan satu siklus pil kombinasi, dan atau berikan 50µg ethynilestradiol atau 1,25mg estrogen equein konjugasi untuk 14-21 hari.
Ekspulsi batang implant
–     Cabut kapsul yang ekspulsi, periksa apakah kapsul yang lain masih di tempat, dan apakah terdapat tanda-tanda infeksi pada daerah insisi.
–     Apabila tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi dan kapsul yang lain masih berada pada tempatnya, pasang kapsul baru satu buah pada tempat insersi yang berbeda.
–     Bila ada infeksi, cabut seluruh kapsul yang ada dan pasang kapsul baru pada lengan yang lain, atau anjurkan klien menggunakan metode kontrasepsi lain.
Infeksi pada daerah insersi
–     Bila terjadi infeksi tanpa nanah, bersihkan dengan sabun dan air, kemudian berikan antiseptik, lalu berikan antibiotik oral yang sesuai untuk 7 hari.
–     Untuk sementara implant tidak dilepas, ditunggu satu minggu, klien diinstruksikan kembali dalam satu minggu.
–     Apabila setelah satu minggu keadaan luka tidak membaik, cabut implant dan pasang implant yang baru pada sisi lengan yang lain atau cari metode kontrasepsi lain yang sesuai.
–     Apabila ditemukan abses, bersihkan dengan antiseptic, lakukan insisi dan alirkan pus keluar, cabut implant, lakukan perawatan luka, dan berikan antibiotika oral yang sesuai selama 7 hari.
Berat badan naik/turun
–     Informasikan kembali pada klien tentang efek samping implant terhadap peningkatan berat badan, apabila terjadi perubahan berat badan 1-2 kg, maka hal ini masih dapat dikatakan normal.
–     Kaji ulang diit klien apabila terjadi perubahan berat badan 2 kg atau lebih.
–     Apabila perubahan berat badan ini tidak dapat diterima, maka bantu klien mencari metode kontrasepsi lain.
4) Intra Uterine Devices (IUD)
Perdarahan
–     Yakinkan klien bahwa jumlah darah haid atau perdarahan diantara haid menjadi lebih banyak pada pengguna AKDR terutama pada beberapa bulan pertama.
–     Lakukan evaluasi penyebab-penyebab perdarahan lainnya dan lakukan penanganan yang sesuai jika diperlukan.
–     Jika tidak ditemukan penyebab lainnya, beri NSAID (Non Steroid Anti Inflamatory) seperti ibuprofen selama 5-7 hari.
–     Jika perdarahan masih terjadi dan klien merasa sangat terganggu, tawarkan metode pengganti bila klien ingin menghentikan penggunaan AKDR.
Kram dan nyeri
–     Jelaskan bahwa spasme otot rahim dan dismenorhoe dapat terjadi pada pengguna AKDR, khususnya dalam beberapa bulan pertama.
–     Cari penyebab perdarahan dan beri penanganan yang sesuai jika diperlukan.
–     Jika tidak ditemukan penyebab yang lainnya, lakukan rujukan, sementara berikan Asetaminophen atau Ibuprofen setiap hari pada beberapa hari pertama menstruasi.
–     Jika perdarahan masih terjadi dan klien merasa sangat terganggu, tawarkan metoda pengganti bila klien ingin menghentikan penggunaan AKDR.
Penanganan keluhan benang AKDR
–     Jelaskan bahwa keluhan ini umum terjadi dan bukan masalah yang serius. Petugas akan mencoba untuk memeriksa kembali dan mencoba menghilangkan keluhan yang ada.
–     Pastikan AKDR terpasang baik dan tidak ada bagian-bagian yang terlepas sebagian
–     Jika AKDR terpasang baik pada tempatnya, lakukan perbaikan dengan menggunting benang hingga tidak menimbulkan gangguan atau melepas AKDR apabila setelah perbaikan masih ada keluhan.
–     Saat dilakukan perbaikan benang dengan memotong benang, maka guntinglah benang dengan tepat sehingga tidak menonjol keluar dari mulut rahim (muara cerviks). Jelaskan pula bahwa benang AKDR tidak lagi keluar dari mulut rahim dan pasangannya tidak akan merasakan juluran benang tersebut. Kemudain buatlah catatan untuk klien bahwa benang telah terpotong rata setinggi permukaan cerviks (penting dicantumkan guna kemudahan saat mencabut AKDR).
C.    Penanganan efek samping metode KB mantap
1) Tubektomi
 Reaksi alergi anestesi
–     Menjelaskan sebab terjadinya bahwa adanya reaksi hipersensitif atau alergi karena masuknya larutan anestesi lokal ke dalam sirkulasi darah atau pemberian anestesi lokal yang melebihi dosis.
–     Reaksi ini dapat terjadi pada saat dilakukan tindakan operasi baik operasi besar atau kecil.
 Infeksi atau abses pada luka
–     Menjelaskan sebab terjadinya karena tidak terpenuhinya standar sterilitasi alat dan ruangan operasi serta pencegahan infeksi, atau kurang sempurnanya teknik perawatan luka pasca operasi.
Perforasi rahim
–     Menjelaskan sebab terjadinya, karena elevator rahim didorong terlalu kuat ke arah yang salah, teknik operasi yang cukup sulit dan peralatan yang kurang memadai, serta keadaan anatomi tubuh yang rumit (biasanya posisi rahim hiperretrofleksi, adanya perlengketan pada rahim, dan pasca keguguran).
–     Terangkan mengenai teknik yang dipakai pada tubektomi serta anatomi tubuh manusia.
Perlukaan kandung kencing
–     Menjelaskan sebab terjadinya, karena tidak sempurnanya pengosongan kandung kencing.
–     Terangkan mengenai teknik yang dipakai pada tubektomi serta anatomi tubuh manusia.
Perlukaan usus
–     Menjelaskan sebab terjadinya karena tindakan yang tidak sesuai prosedur, teknik operasi yang cukup sulit dan peralatan yang kurang memadai, serta keadaan anatomi tubuh yang rumit.
–     Terangkan mengenai teknik yang dipakai pada tubektomi serta anatomi tubuh manusia.
Perdarahan mesosalping
–     Menjelaskan sebab terjadinya karena terpotongnya pembuluh darah di daerah mesosalping.
2) Vasektomi
Reaksi alergi anestesi
–     Reaksi ini terjadi karena adanya reaksi hipersensitif/alergi karena masuknya larutan anastesi lokal ke dalam sirkulasi darah atau pemberian anastesi lokal yang melebihi dosis. Penanggulangan dan pengobatannya adalah dengan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) untuk menjelaskan sebab terjadinya reaksi.
Perdarahan
–     Biasanya terjadi perdarahan pada luka insisi di tempat operasi, dan perdarahan dalam skrotum. Penyebab terjadinya perdarahan tersebut karena terpotongnya pembuluh darah di daerah saluran mani dan atau daerah insisi.
–     Penanggulangannya perdarahan dihentikan dengan penekanan pada pembuluh darah yang luka apabila terjadi pada saat operasi.
Hematoma
–     Hematoma ditandai dengan adanya bengkak kebiruan pada luka insisi kulit skrotum. Hal ini disebabkan karena pecahnya pembuluh darah kapiler.Penanggulangannya dilakukan dengan tindakan medis yaitu memberikan kompres hangat, kemudian beri penyangga skrotum, dan bila perlu dapat diberikan salep anti hematoma.
Infeksi
–     Gejala/keluhan apabila terjadi infeksi yaitu adanya tanda-tanda infeksi seperti panas, nyeri, bengkak, merah dan bernanah pada luka insisi pada kulit skrotum. Penyebab infeksi ini karena tidak dipenuhinya standar sterilisasi peralatan, standar pencegahan infeksi dan kurang sempurnanya teknik perawatan pasca operasi.
Granuloma sperma
–     Granuloma sperma yaitu adanya benjolan kenyal yang kadang disertai rasa nyeri di dalam skrotum. Penyebabnya adalah keluarnya spermatozoa dari saluran dan masuk ke dalam jaringan sebagai akibat tidak sempurnanya ikatan vas deferens.
–     Apabila granuloma sperma kecil akan di absorpsi spontan secara sempurna. Bila granuloma besar rujuk ke RS untuk dilakukan eksisi sperma granuloma dan mengikat kembali vas deferens, namun biasanya akan sembuh sendiri. Rasa nyeri dapat diatasi dengan pemberian analgetik.
Gangguan penis
–     Meningkatnya gairah seksual (libido) dan menurunnya kemampuan ereksi (impotensi) merupakan keluhan yang sering dialami oleh pria setelah operasi. Kemungkinan besar disebabkan oleh gangguan psikologis (baik yang meningkat libidonya ataupun yang impotensi), karena secara biologis pada vasektomi produksi testoteron tidak terganggu sehingga libido (nafsu seksual) tetap ada.
–     Penanggulangan dari efek samping ini tidak perlu dilakukan tindakan medis, namun perlu dilakukan psikoterapi.